TechnoUpdate News

AI Mulai Menggeser Profesi Aktor, Apakah Industri Film Indonesia Akan Mengalami Nasib Serupa?

Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai menggantikan profesi aktor di industri drama pendek China, memunculkan pertanyaan apakah perubahan serupa juga berpotensi terjadi di industri film Indonesia.

Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak lagi hanya membantu proses produksi film, tetapi mulai menggantikan sebagian pekerjaan manusia, termasuk profesi aktor. Fenomena tersebut kini terlihat nyata di China, ketika sejumlah aktor drama pendek kehilangan pekerjaan karena rumah produksi beralih menggunakan karakter virtual berbasis AI.

Salah satu kisah yang menjadi perhatian adalah Xu Peng, aktor berusia 30 tahun yang sebelumnya dikenal sebagai pemeran CEO dalam drama pendek vertikal. Setelah industri beralih menggunakan AI, tawaran aktingnya menghilang. Ia akhirnya meninggalkan pusat produksi film di Zhejiang dan kembali ke kampung halamannya di Shandong untuk membantu keluarganya berjualan sayur di pasar tradisional.

Kasus Xu Peng bukanlah yang pertama. Sebelumnya, aktor Zhang Xiaolei, yang telah membintangi lebih dari 200 drama pendek, juga mengaku kehilangan banyak pekerjaan setelah karakter virtual AI mulai digunakan secara luas. Ia kini memilih menjadi petani cabai sambil sesekali menerima tawaran akting apabila ada.

AI Mengubah Cara Industri Hiburan Bekerja

Perubahan ini terutama terjadi pada industri micro drama atau drama vertikal yang sangat populer di China. Format serial berdurasi satu hingga tiga menit tersebut diproduksi dalam jumlah sangat besar sehingga efisiensi biaya menjadi prioritas utama.

Laporan media China menyebutkan bahwa pada kuartal pertama 2026 terdapat sekitar 128.000 drama pendek yang dirilis, dan sekitar 122.000 di antaranya diproduksi dengan memanfaatkan AI. Teknologi tersebut mampu menghasilkan karakter digital, suara, hingga adegan dalam waktu jauh lebih singkat dibandingkan produksi konvensional.

Read More  Fitur AI di Microsoft Notepad Justru Picu Masalah Keamanan

Bagi rumah produksi, penggunaan AI menawarkan efisiensi yang signifikan. Teknologi ini mampu memangkas biaya produksi, mempercepat proses pembuatan konten, mengurangi ketergantungan pada jadwal aktor, serta memungkinkan karakter virtual diciptakan sesuai kebutuhan tanpa melalui proses casting. Di sisi lain, efisiensi tersebut mulai mengurangi kebutuhan terhadap aktor manusia, terutama pada produksi dengan anggaran rendah.

Apakah Hal Serupa Bisa Terjadi di Indonesia?

Kemungkinan tersebut terbuka, meski belum akan terjadi dalam waktu dekat, terutama pada produksi film layar lebar maupun serial premium.

Industri perfilman Indonesia hingga kini masih sangat mengandalkan kemampuan aktor dalam membangun emosi dan karakter sebagai daya tarik utama sebuah film. Kehadiran aktor dan aktris ternama juga menjadi salah satu faktor penting yang mendorong penonton datang ke bioskop atau berlangganan layanan streaming.

Selain itu, meski teknologi AI semakin mampu menghasilkan wajah, suara, dan gerakan yang tampak realistis, kemampuan tersebut masih belum sepenuhnya mampu menggantikan ekspresi emosional, improvisasi, serta interaksi antarpemeran yang menjadi kekuatan utama akting manusia. Di sisi lain, investasi teknologi AI di rumah produksi Indonesia juga masih jauh lebih terbatas dibandingkan perusahaan konten digital di China.

Profesi yang Lebih Rentan Digantikan AI

Meski aktor utama diperkirakan masih akan tetap dibutuhkan, AI berpotensi lebih dahulu menggantikan pekerjaan lain di industri kreatif. Teknologi ini semakin banyak digunakan untuk menciptakan karakter figuran digital, model iklan virtual, pengisi suara sintetis, presenter berbasis AI, hingga membantu proses animasi dan penyuntingan video. Bahkan, teknologi generatif saat ini sudah mampu menghasilkan karakter lengkap dengan sinkronisasi gerakan bibir, ekspresi wajah, dan suara yang menyerupai manusia.

AI Lebih Mungkin Menjadi Mitra daripada Pengganti

Di berbagai negara, banyak rumah produksi justru memilih memanfaatkan AI sebagai alat pendukung proses kreatif, bukan sebagai pengganti total aktor. Teknologi ini digunakan untuk menyusun storyboard, membuat konsep visual, menghasilkan efek visual (VFX), mempercepat proses penyuntingan, menerjemahkan dialog ke berbagai bahasa, hingga melakukan proses sulih suara secara otomatis.

Read More  Tanda Tangan Digital Melonjak 250% di Awal 2026, Tren Administrasi Tanpa Kertas Kian Menguat

Pendekatan tersebut memungkinkan aktor tetap menjadi pusat cerita, sementara AI berperan meningkatkan efisiensi produksi dan menekan biaya.

Indonesia Perlu Bersiap

Fenomena yang terjadi di China menjadi sinyal bahwa perkembangan AI dapat mengubah struktur industri kreatif dengan sangat cepat. Meski industri film Indonesia belum menghadapi tekanan serupa, transformasi digital diperkirakan akan semakin terasa dalam beberapa tahun mendatang.

Karena itu, pelaku industri kreatif perlu mulai beradaptasi dengan meningkatkan kemampuan yang sulit ditiru mesin, seperti kreativitas, improvisasi, serta kemampuan membangun karakter dan kedekatan emosional dengan penonton. Dengan kondisi tersebut, AI kemungkinan besar tidak akan menghapus profesi aktor sepenuhnya, tetapi akan mengubah cara industri bekerja. Aktor yang mampu memanfaatkan AI sebagai bagian dari proses kreatif diperkirakan akan memiliki daya saing yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengikuti perkembangan teknologi.

Back to top button